Uncategorized

Radang Sendi

Semakin bertambahnya usia seseorang pasti akan semakin banyak keluhan-keluhan yang dirasakan.  Salah satu yang sering dikeluhkan adalah masalah sendi, misalnya saja sendi terasa kaku dan sulit digerakkan. Hal semacam ini bisa dikatakan dengan radang sendi atau disebut juga sebagai artritis merupakan suatu kondisi terjadinya peradangan (inflamasi) dalam satu atau beberapa sendi. Biaya sendi akan bengkak, kemerahan atau panas/hangat pada sendi

Dikutip dari alodokter.com ada beberapa jenis radang sendi, antara lain :

  • Artritis karena kondisi degeneratif (degenerative arthritis)

Osteoarthritis merupakan jenis yang paling sering terjadi. Kondisi ini terjadi ketika tulang rawan sendi mulai menipis seiring usia, sehingga tulang bisa bergesekan langsung dengan tulang lain dan menyebabkan rasa sakit serta terhambatnya gerakan. Osteoarthritis umumnya diderita oleh orang berusia 50 tahun ke atas, dan biasanya menyerang sendi di bagian tangan, lutut, pinggul, atau tulang belakang.

Salah satu osteoarthritis yang menyerang tulang belakang daerah leher adalah spondilosis servikal. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala nyeri dan kaku pada leher.

  • Artritis karena reaksi peradangan (inflammatory arthritis). Sistem kekebalan tubuh umumnya melindungi tubuh dengan menimbulkan reaksi peradangan untuk menghilangkan infeksi dan mencegah penyakit. Namun sistem kekebalan tubuh dapat salah dan menyerang sendi dengan mengakibatkan reaksi peradangan yang tidak terkontrol (reaksi autoimun). Keadaan ini dapat mengakibatkan erosi pada sendi dan dapat menyerang organ lain juga. Beberapa contoh inflammatory arthritis adalah:
    • Rheumatoid arthritis, terjadi ketika membran sinovial (lapisan pembungkus sendi) mengalami peradangan dan bengkak akibat serangan dari sistem kekebalan tubuh kita sendiri. Kondisi ini lebih banyak diderita oleh wanita dibandingkan pria dengan usia antara 40-50 tahun. Jika tidak ditangani dengan benar, dapat menyebabkan kerusakan tulang, tulang rawan dan organ tubuh lainnya.
    • Psoriatic arthritis. Merupakan jenis radang sendi yang biasanya muncul pada penderita penyakit psiriasis.
    • Enteropathic arthritis. Penyakit ini umumnya dirasakan pada sendi tungkai dan tulang belakang. Enteropathic arthritis merupakan komplikasi dari penyakit kolitis ulseratif dan Crohn’s Disease.
    • Reactive arthritis. Reactive arthritis yang dulu disebut Reiter syndrome merupakan kondisi autoimun yang timbul akibat respon tubuh terhadap infeksi sehingga menimbulkan peradangan di sendi. Penyakit ini berhubungan dengan infeksi di saluran pencernaan akibat Shigella (disentri) atau Salmonella (tifus) serta infeksi saluran kemih dan genital (chlamydia)
  • Artritis karena infeksi (infectious arthritis). Virus, bakteri atau jamur di dalam darah langsung masuk dan menyerang ke dalam sendi sehingga menimbulkan reaksi peradangan. Berbeda dengan reactive arthritis, dimana reaksi peradangan di dalam sendi diakibatkan oleh infeksi di tempat lain. Radang sendi dengan nama lain septic arthritis ini berisiko pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pada penyakit kanker dan diabetes.
  • Artritis karena gangguan metabolik (metabolic arthritis). Penyakit asam urat merupakan metabolic arthritis. Kondisi yang umumnya menyerang bagian sendi jempol kaki ini disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat di dalam sendi. Selain sakit, sendi yang terkena penyakit asam urat juga bisa memerah dan membengkak. Kondisi ini lebih berisiko menyerang pria.

Diagnosis Radang Sendi

Diagnosa amal radang sendi dapat diamati dengan adanya pembengkakan dan melihat kemampuan pasien dalam menggerakkan sendi. Jika pasien dicurigai menderita radang sendi, maka dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, misalnya pemeriksaan darah, cairan sendi, dan urine di laboratorium, untuk menguatkan diagnosis. Pemeriksaan radang sendi yang dilakukan akan bervariasi tergantung dari jenis kondisi yang dicurigai. Selain pemeriksaan laboratorium, diagnosis radang sendi juga bisa dilakukan menggunakan metode pemindaian, contohnya dengan USG, foto Rontgen, CT scan, atau MRI